Pemimpin, Faktor Utama Penentu Perubahan

sifat-pemimpinPagi ini aku lewat di tempatmu dan melihat kamu meriwayatkan hadits pada beberapa orang, dan kau duduk di tempat yang dinaungi dan terlindung dari terik matahari, sedang mereka berada di bawah terik matahari yang membakar ………..

Tadi malam penulis baru membaca suatu cerita menarik yang dikisahkan oleh Harun bin Abdullah. Suatu ketika datanglah Ahmad bin Hannibal kepadanya dan menyampaikan kritiknya, “pagi ini aku lewat di tempatmu dan melihat kamu meriwayatkam hadits pada beberapa orang, dan kau duduk di tempat yang dinaungi dan terlindung dari terik matahari, sedang mereka berada di bawah terik matahari yang membakar ………………..”.

Sepenggal kalimat di atas mempunyai makna yang sangat mendalam, karena jelas apa yang disampaikan oleh Ahmad bin Hannibal ini adalah hal yang baik, yang substansinya sangat berguna bagi para pendengarnya jika dipahami, dijiwai dan dilaksanakan. Harun bin Abdullah terlindungi dari terik matahari, sedang para pendengarnya berada di tempat terbuka di bawah terik matahari. Seorang pemimpin yang baik haruslah seorang yang dapat dibanggakan sebagai panutan, mendahulukan kepentingan umum, sebelum kepentingan pribadinya dipenuhi. Pemimpin tidak membuat pengikutnya murung dan putus asa, tetapi sebaliknya harus mampu mengembangkan senyum dan harapan para pengikutnya dan bila perlu pemimpin harus berkorban bagi umatnya.

Berikutnya mari kita simak bersama beberapa catatan yang menarik untuk dikaji sebagai dasar perubahan pola pikir ke depan.

Catatan 1:

Prioritas utama peningkatan kinerja BUMN seperti disampaikan oleh Meneg BUMN Sugiharto pada salah satu kesempatan pembukaan kursus ESQ adalah terjadinya value creation, BUMN harus melakukan cultural mitigations dari yang sebelumnya pada kondisi belum competitive dan corporative menjadi budaya lebih competitive dan corporative. Meneg BUMN menengarai, bahwa banyak BUMN yang masih terperangkap dalam budaya harmoni sosial yang statis padahal nilai-nilai sosial harmoni tersebut seiring dengan tantangan perubahan, harus diperkaya dengan nilai kecepatan, orientasi bisnis, pelayanan dan competitiveness. Beliau menekankan suatu hal yang diperlukan adalah pemahaman bahwa mengelola perusahaan yang kinerjanya sedang menurun adalah tidak sama dengan mengelola perusahaan yang kinerjanya sedang menanjak naik. Sayangnya sebagian besar eksekutif BUMN hanya terlatih untuk mengelola perusahaan yang sedang tumbuh, sehat dan tertib (demikian Sugiharto pada kata pengantar buku Rhenald Kasali, “CHANGE !” (2005). Rasanya kita semua harus akui bahwa apa yang disampaikan Meneg BUMN Sugiharto tersebut benar, oleh karena itu sekarang mari kita bersama menyikapinya.

Catatan 2:

Robby Djohan, “ The Art of Turnaround, Kiat Restrukturisasi”(2004), bisa melakukan perubahan yang menakjubkan saat mengelola Bank Niaga, dimana terjadi suatu perubahan besar, yang memang dapat dirasakan oleh penulis yang kebetulan nasabah bank tersebut, penilaian pelanggan tentunya terutama sekali terhadap apa yang dirasakannya secara langsung, yaitu perilaku para teller sebagai front liner yang dengan ramah akan mengatakan “terima kasih” pada akhir layanan dan “apa yang bisa saya bantu” pada awal layanannya. Ternyata Robby yang meledak ledak, dan menginginkan semua harus sesuai target, pada awalnya dianggap sebagai suatu hal negatif oleh para karyawan, tetapi akhirnya diakui memberikan angin segar dan nuansa kepemimpinan yang menumbuhkan inovasi seperti dituliskan oleh Peter B Stok, salah seorang mantan anak buahnya yang juga berhasil sebagi Direktur Utama Bank Niaga. “Disitulah kami semua dididik, kalimat yang biasa disampaikan dan diingat para anggotanya adalah “….tolong selesaikan, besok harus sudah ada di meja saya”.

 
 
 
 
 
 
 

Add a comment

required

required

optional