Surat dari anakmu Adit untuk ibu..

Aditya Pratama Sarwono

IMG_20140323_072549
Sudah hari ke-3 , ibu meninggalkan kami bertiga, aku semakin merindukan ibu.. Rumah terasa sudah tidak sama lagi seperti dulu.. Setiap melihat tempat tidur ibu yang kosong, dapur yang tidak lagi mengeluarkan harum masakan kesukaanku, tataan rumah yang ibu atur masih pada tempatnya, omelan2 ibu yang dulu mungkin membuat aku kesal sudah tidak terdengar lagi, candaan2 garing dan curhat dengan ibu di ruang makan pun sudah tidak mungkin terjadi lagi, semua ini membuat aku masih saja menyesal dan sedih..
Kenangan demi kenangan akan ibu, selalu muncul, setiap kali aku terlamun.. Teringat kembali sehari sebelum ibu masuk ICU, aku meminta maaf atas kesalahan demi kesalahan yang tentunya pernah membuat ibu mungkin merasa kecil hati atau merasa gagal dalam mendidik anak..
Jika pada saat itu aku tidak menyempatkan untuk minta maaf kepada ibu, mungkin sampai saat ini aku tidak akan dapat memaafkan diri aku sendiri, karena pada hari itu adalah hari terakhir aku mendengar suara kata memaafkan yang keluar dari mulut ibu dan selebihnya setelah ibu masuk ICU, aku hanya bisa melihat goresan demi goresan tulisan lemah ibu pada kertas-kertas yang masih bisa aku baca, gerakan demi gerakan mulut bisu ibu yang aku berusaha tuk mengerti, dan sampai pada akhirnya hanya bisa dari kontak mata ibu yang sayu dan berair dimana aku hanya bisa menebak2 maksud ibu yang tidak bisa diungkapkan karena kondisi ibu yang semakin memburuk..
Ingin sekali rasanya aku memeluk tubuh ibu yang penuh dengan tusukan selang obat2an, makanan dan ventilator, bekas sayatan demi sayatan operasi pada perut, dada yang dibuat oleh dokter membuat aku tidak tega dengan penderitaan ibu yang berkepanjangan di ruang ICU..
Namun aku hanya bisa meringankan penderitaan ibu dengan memegang erat tangan ibu, memijat kaki ibu, mengusap rambut putih ibu, mencium kening ibu, menunggui ibu yang tertidur dan berharap datangnya keajaiban agar ibu bisa sembuh.. Seiring waktu 1 bulan lamanya di ICU, perasaan tidak ingin kehilangan ibu berubah menjadi rasa ikhlas tuk melepaskan dan tidak ingin ibu menderita lagi..
Aku sangat senang bisa menemani ibu sampai pada detik2 terakhir dimana denyut nadi ibu melambat, tekanan darah menurun, paru2 memompa semakin lemah dan satu persatu bagian tubuh mulai mendingin, ibu perlahan2 meninggalkan kami.. Sekarang aku sudah yakin ibu tidak mengalami sakit lagi, dan aku turut bahagia ibu sudah hidup tenang di surga sana.. Aku berjanji sebagai kakak yang paling besar, akan selalu menjaga bapak dan adikku persis seperti permintaan terakhir ibu..
Aku juga akan membuat klinik gigi sesuai design yang ibu mau, seperti design ruang ICU yang ibu tempati dan ibu dengan susah payah menulis di kertas, meminta untuk dipotret tempatnya. Aku yakin ibu akan menyukai hasil design kliniknya setelah jadi nanti.. Seandainya ada cara untuk bisa mengembalikan ibu, aku akan lakukan dengan resiko2 yang ada..
Tapi mungkin dengan tidak adanya ibu, terjadi adanya blessing in disguise, dimana kami bertiga akan menjadi lebih dekat satu sama yang lain..
Ini mungkin rencana Tuhan yang pada awalnya tidak bisa aku terima, tapi pada akhirnya aku hanya bisa mengambil sisi baiknya dari rencanaNya..
Bu, sudah 29 tahun, ibu merawat aku, aku cuma bisa berharap selama 29 tahun ini akan selalu menjadi kenangan kita yang terindah dalam hidupku..
Aku, bapak, dan Ayu tidak akan melupakan jasa ibu selama ini.. Dan yang mesti ibu tahu, ibu tidak pernah gagal dalam mendidik kami, aku bangga sama ibu, aku sayang ibu selalu..
Maafkan aku, anakmu yang nakal dan keras kepala ini ya bu..
 
 
 
 
 
 

1 Commentclick here to leave a comment

  • Dear Pak Sarwono yang baik,

    Saya merasa yang terungkap dalam tulisan itu benar adanya. Bahwa mas Adit adalah wakil ibu dalam rumah tangga, pertama beliau sebagai anak mbarep, yang kedua, beliau adalah laki-laki, yang sudah pasti lebih dekat dengan ibunya. Rasa kehilangan itu pasti sangat terasa untuk mas Adit. Sama seperti saya kehilangan kedua orang tua saya hanya dalam jangka waktu 1 tahun saja.

    Maka dalam surat ini juga, saya mohon maaf yang sebesarnya kepada pak Sarwono, karena saat saya bermimpi bertemu dengan ibu Susan Hardjono, beliau mengucapkan perpisahan. dan itu saya sampaikan hanya kepada mas Adit pagi hari tepatnya jam 05.00 karena terkaget atas perpisahan itu, dan maaf tidak saya sampaikan ke pak Sarwono, Tidak tahu kenapa justru ke mas Adit, mungkin saat itu yang terbesit dalam benak, saya merasa sama posisinya dengan mas Adit, yaitu sama2 mbarep, Harapan saya sebetulnya agar mas Adit waktu tanggal 8 Maret 2014 jam 05.00 tersebut, segera mengikhlaskan ibu. Namun sepertinya kondisi ibu pada hari Sabtu tersebut cenderung stabil, maka ucapan saya seperti bukan apa-apa, dan saat itu saya juga maklum. Tapi seingat saya, pada saat ibu berpamitan dalam mimpi itu, hari jumatnya beliau sempat drop parah juga.

    Dalam mimpi itu juga, beliau nitip pesan kepada saya untuk tetap melanjutkan menulis buku lagi. Dan itulah penyemangat saya untu kembali menulis. semoga dalam waktu dekat, buku itu dapat selesai, dan segera saya persembahkan untuk Bu Susan, agar amanah dapat terwujud.

    Mungkin begitulah kenangan bersama ibu, dan saya masih simpan guyonan-guyonan dan ledek-ledekkan beliau di BB maupun di Whatsapp, Sebetulnya, tidak lama bersenda gurau dengan beliau, namun itu sangat berkesan. Semoga Bu Susan dapat tenang di Surga, seperti puisi yang ibu tulis ke saya tanggal 25 Desember 2013 tentang keinginan ibu untuk “kembali”, berikut ini Puisi beliau (yang kata beliau adalah hasil Copy Paste, namun saya tidak yakin, bahwa itu copas):

    SANG WAKTU

    Tak ada waktu pada-Nya Karena Ia tak berwaktu
    Namun Ia yang tak berwaktu, telah membatasi diri-Nya oleh waktu
    Dalam kesunyian malam itu, waktu-Nya mulai dihitung
    Ketika tangisan-Nya yang pertama menggema
    Mendetakkan waktu-Nya yang pertama di bumi.
    Oh, Sang penentu waktu yang tak berwaktu
    Mengapa Engkau membiarkan diri-Mu di atur oleh waktu?
    Mengapa Engkau merelakan diri-Mu dibatasi oleh waktu?
    Mengapa Engkau menghadirkan diri-Mu ke dalam waktu?
    Malam itu, dalam lenguhan hewan yang tak mengenal waktu
    Engkau datang untuk memberi waktu yang baru bagi dunia
    Engkau datang untuk menawarkan waktu sebagai anugerah
    Engkau datang untuk mengatakan waktunya tidak lama lagi
    Sebab dunia yang terbatas oleh waktu akan segera berakhir di dalam waktu
    Engkau datang untuk mengatakan, waktuku adalah saat ini
    Engkau datang untuk mengatakan kepadaku, waktu-ku hanya sementara di sini
    Engkau datang untuk mengatakan,
    Berdamailah dengan Aku Sang Waktu yang sejati Agar aku dapat bersama-Mu tanpa waktu.

    Itulah sinyal kepergian ibu yang sempat saya sampaikan puisi ini ke Pak Sarwono. Dan saat itu, saya menyampaikan di Kantor bapak di PU. Dan saya ingat betul, karena sayangnya Bapak terhadap ibu, maka Pak Sarwono bilang begini ke saya, “Ibu ngawur wae! Aku itu masih sayang sama ibu.”…. dan saya masih ingat sekali, saya ditinggal sendirian, di kantor bapak, karena bapak buru-buru pulang, mungkin mau segera ketemu ibu, tanpa menunggu kedatangan mas Franz, untuk diskusi.

    Kenangan…
    Kenangan…
    Kenangan…
    Mungkin inilah “tugas setiap manusia”, untuk menciptakan kenangan dihati orang-orang terdekatnya…..

 
 

Add a comment

required

required

optional